Disusun oleh: Nisa Fathiya Azmi dan Shahnaz Zaskia Khairunnisa
pcimmdenpasar.org – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Denpasar bersama Pimpinan Komisariat Al-Khawarizmi PC IMM Kota Denpasar sukses menggelar kegiatan Darul Arqam Dasar (DAD) dan Darul Arqam Madya (DAM) selama tiga hari dua malam pada 12–14 September 2025 bertempat di SD Muhammadiyah 2 Denpasar.
Darul Arqam Dasar merupakan pengkaderan utama tingkat pertama yang bertujuan memperkenalkan IMM kepada mahasiswa baru, sedangkan Darul Arqam Madya adalah jenjang perkaderan tingkat kedua yang berfokus pada penguatan pemikiran, pembentukan karakter, dan peningkatan kesadaran kritis kader. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan beragam materi penting seperti Pandangan Hidup Mahasiswa Muslim, Analisis Sosial, Networking Negosiasi, Ideologi Gerakan IMM dan Muhammadiyah, hingga strategi kepemimpinan.
Pada DAD tahun ini, Pimpinan Komisariat Al-Khawarizmi PC IMM Kota Denpasar mengusung tema “Menanamkan Jati Diri Kader Islami Sebagai Pondasi Perjuangan”, sedangkan DAM mengangkat tema “Mengokohkan Kepemimpinan dan Intelektualitas Kader Muhammadiyah Untuk Umat dan Bangsa.” Kegiatan dibuka dengan pembacaan laporan oleh Ketua Pelaksana Bariex Kautsar Imanda dan sambutan serta pembukaan resmi oleh Ayahanda PDM Kota Denpasar, Tatang Wisnu Wardana. Setelah pembukaan dan pelepasan, acara dilanjutkan dengan sholat Maghrib berjamaah serta screening peserta DAD oleh fasilitator Raodatunsyarifah dan Awang Yonar Prakosa. Pada malam harinya, peserta menerima materi pembuka Pandangan Hidup Mahasiswa Muslim oleh Ayahanda Abdillah untuk peserta DAD dan Teologi Al-Ma’un oleh Riza Putra untuk peserta DAM.

Gambar 2. Darul Arqam Dasar
Di hari kedua, rangkaian kegiatan dimulai dengan sholat Subuh berjamaah, Kultum, dan Kajian Ayat. Setelah sarapan, peserta DAD langsung memasuki materi Ideologi Gerakan IMM oleh Bang Yonar Prakosa. Usai materi, peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dan presentasi yang dipandu fasilitator. Sementara itu, peserta DAM mendapatkan materi Muhammadiyah dan Perubahan Sosial.
Siang harinya, peserta DAD mendapatkan materi Ideologi Gerakan Muhammadiyah oleh Bang Pramudya Rahardjo, dilanjutkan materi Kepemimpinan, Struktur, dan Manajemen Organisasi Ikatan oleh Bang Firman. Setelah materi tersebut, peserta kembali menggelar FGD dan Presentasi untuk memperdalam pemahaman.
Peserta DAM mendapatkan materi IMM dan Transformasi Kader: Persyarikatan, Umat, Bangsa, dan Kemanusiaan serta Pengembangan Kepemimpinan, Struktur, dan Manajemen Organisasi Ikatan serta Persyarikatan.
Menjelang sore, peserta DAD mendapat materi Kepemimpinan oleh Pak Miftahurrahman, kemudian materi Sistematika dan Logika Berpikir oleh Bang Yon Eko. Peserta DAM mendapatkan materi Opinion Leadership. Pada malam hari, kegiatan DAD dilanjutkan dengan materi Analisis Sosial dan Manajemen Ansosial oleh Kanda Yedi serta DAM dengan materi Analisis Aksi Sosial, Manajemen Konflik, dan Manajemen Aksi, yang kemudian diakhiri dengan diskusi tukar pendapat bersama peserta DAD dan DAM.
Memasuki hari ketiga, setelah sarapan peserta DAD dan DAM mengikuti materi “Strategi Influencer Menggunakan Dakwah, Intelektual, dan Humanisme di Era Digital” yang dibawakan oleh Ibunda Lina, Ibunda Tuty, dan Yunda Dian.
Siangnya dilanjutkan dengan materi Negosiasi dan Lobbying. Seusai materi peserta menunaikan sholat Dzuhur berjamaah, kemudian menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) bersama instruktur. Kegiatan resmi ditutup dengan acara penutupan sambil makan bersama yang menjadi momen kebersamaan terakhir sebelum para peserta kembali ke tempat masing-masing.

Gambar 3. Darul Arqam Madya
“Kegiatan perkaderan adalah salah satu kegiatan yang penting bagi sebuah organisasi. Perkaderan bukan hanya sekedar seremonial belaka melainkan salah satu penentu dari kelangsungan sebuah organisasi. Karena kegiatan perkaderan penting maka harus di lakukan dengan perencanaan yang matang.” ungkap salah satu instruktur DAD, Raodatunsyarifah.
Melalui rangkaian kegiatan DAD dan DAM ini, IMM tidak hanya berhasil melaksanakan proses perkaderan formal, tetapi juga menciptakan ruang pembelajaran, persaudaraan, dan penguatan nilai di antara para kader. Selama tiga hari penuh, peserta dibekali wawasan ideologis, keterampilan praktis, dan pengalaman kebersamaan yang memperkuat identitas kader Muhammadiyah di era digital.
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda rutin, tetapi menjadi pijakan nyata bagi para kader untuk menerapkan ilmu, memperluas jejaring, dan menghidupkan semangat perubahan positif di masyarakat. Dengan bekal yang telah diperoleh, para kader IMM diharapkan mampu menjadi motor penggerak yang kritis, solutif, dan humanis, serta tetap memegang teguh nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
Pada akhirnya, perkaderan ini menjadi bukti bahwa IMM terus berkomitmen melahirkan generasi yang siap memimpin, siap berkolaborasi, dan siap berjuang bagi persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan.***









