Home / Uncategorized / Berita / Broken Strings Bukan untuk Ditangisi Bersama, Tapi Untuk Dipahami Bersama

Broken Strings Bukan untuk Ditangisi Bersama, Tapi Untuk Dipahami Bersama

disusun oleh: Raodatunsyarifah, S.Pd.

pcimmdenpasar.org – Sekilas ikut serta membahas yang sedang trending di jagat maya tentang buku yang ditulis oleh Aurelia Moeremans, “Broken Strings”. Tulisan ini kuberikan judul “buku ini bukan untuk ditangisi bersama, tapi untuk dipahami bersama”. Disclaimer, tulisan ini bukan untuk menyudutkan pihak mana pun dan bukan untuk menggurui siapa pun, hanya pandangan pribadi sebagai seorang pembaca.

Dalam buku Broken Strings ini, banyak pelajaran penting yang bisa kita ambil dan pelajari. Terdapat beberapa poin yang berhasil saya rangkum.

Pertama, harus kita sadari bersama bahwa di sekitar kita banyak yang bernasib sama seperti Aurelia kecil. Bahwa menulis bagi beberapa orang bukan lagi berbicara tentang manfaat, akan tetapi kebanyakan dari mereka menjadikan menulis sebagai media untuk menyembuhkan diri sendiri dan sebagai cara untuk mengungkap sebuah fakta yang kebanyakan orang tidak sadari atau bahkan lebih buruknya kita sadar tapi pura-pura tidak sadar.

Kedua, banyak hal yang bisa dipelajari di buku ini, termasuk hal yang paling krusial tentang bagaimana korban mengungkapkan pola yang sering digunakan oleh pelaku grooming menghasut dan memberikan kenyamanan pada korban.

Kata atau istilah grooming sendiri masih sangat asing terdengar oleh telinga kita sebagai masyarakat awam. Namun, sosial media sudah berhasil menjalankan perannya untuk menyebarluaskan tentang grooming ini.

Ketiga, kejahatan seks atau lebih khususnya grooming ini bisa terjadi dimana saja, pada siapa saja, bahkan di tempat yang sering kali kita anggap aman atau bahkan bisa dilakukan oleh orang-orang yang kita tidak akan sangka bisa melakukan hal demikian dikarenakan kejahatan semacam ini tidak melulu tentang kurangnya kasih sayang, akan tetapi bisa terjadi dan menimpa anak yang bahkan di rumah dan lingkungan bermainnya tidak kekurangan kasih sayang sedikit pun.

Ini poin penting yang sering kita lupakan atau kita sepelekan. Keempat, bahwa pendidikan seks sejak dini itu sangat penting. Pendidikan seks sejak dini di dalam keluarga sangat penting, karena banyak dari kita sebagai masyarakat awam salah persepsi atau pemahaman terkait pendidikan seks usia dini. Seolah-olah jika membahas terkait seks, pembahasannya hanya tentang pornografi dan bagaimana cara berhubungan badan. Jarang dari kita yang paham bahwa konteks pendidikan seks itu luas tidak melulu terkait dengan pornografi.

Ketidakpedulian kita terhadap pendidikan seks sejak dini akan memunculkan banyak masalah terutama pada pertumbuhan seorang anak.

Sederhananya adalah jika kita sebagai masyarakat umum, khususnya orang tua, paham terkait konsep pendidikan seks dan berhasil untuk belajar menerapkan konsep pendidikan seks sejak dini di rumah, maka masalah yang menimpa Aurelia kecil dan mungkin sebagian besar remaja di Indonesia tidak akan terjadi atau bisa kita cegah dari awal.

Contoh sederhana dari cerita Aurelia kecil ini, ia tidak lahir dan besar dari keluarga yang kekurangan kasih sayang dan support system, Aurelia lahir dengan kasih sayang yang cukup meskipun di tengah keterpurukan ekonomi dan finansial.

Dari sudut pandang orang awam, tidak ada yang menjadi alasan untuk Aurelia kecil mengalami child grooming itu sendiri. Namun pada kenyataannya, itu terjadi pada Aurelia kecil.

Itulah mengapa dari awal tulisan ini menyebut bahwa child grooming itu bisa menimpa siapa saja dan bisa dimana saja serta pelakunya bisa siapa saja tanpa memperhatikan apakah dia orang asing atau orang terdekat. Sebab ketidaktahuan kita terhadap konsep pendidikan seks memberikan kesempatan kepada para pelaku untuk melancarkan aksinya.

Contoh kecilnya adalah sebagai orang tua tidak pernah memberlakukan batasan-batasan kepada tamu, entah siapa pun itu, termasuk sampai mana seorang tamu boleh masuk ke dalam rumahnya. Seorang pelaku kejahatan berhasil bukan karena ia mencari kesempatan, akan tetapi kebanyakan dari mereka melihat kesempatan yang ada tanpa kita sadari dari awal.

Mengapa pendidikan seks begitu sering ditekankan dalam tulisan ini? dari kisah yang saya baca tentang Aurelia, bahwa Aurelia kecil tidak pernah diberikan pemahaman terkait batasan-batasan bagian tubuh mana saja yang boleh dan tidak boleh disentuh. Hal ini dapat dibuktikan bahwa Aurelia kecil tidak bisa membedakan apakah yang terjadi padanya adalah sebuah pelecehan seksual. Aurelia kecil salah mengartikan konsep pelecehan seksual bahwa dia mengira pelecehan seksual itu hanya terjadi di gang kecil yang gelap dan dilakukan oleh orang asing.

Beberapa kisah yang disuguhkan di buku ini menunjukkan bahwa begitu mirisnya pemahaman dan keperdulian kita terhadap pentingnya pendidikan seks.

Harapan saya semoga kita bisa membaca dengan bijak dan dapat mengambil pesan dan pembelajaran dari sebuah tulisan tidak hanya terbawa oleh alur dan suasana yang tersaji di dalam buku.***

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *