Penulis: Hanif Zaimar Rahman
Sang Raksasa Jalur Kereta Abad-21
Dalam waktu kurang dari dua dekade, China berhasil mengubah wajah transportasi modern dunia. Dahulu China merupakan negara terbelakang dalam aspek ekonomi dan teknologi. Tapi sungguh mengejutkan, negara ini kini memegang rekor sebagai pemilik jaringan kereta cepat terpanjang di dunia yang sampai mendapatkan julukan “Raksasa Jalur Kereta Abad-21”. Jalurnya itu sangat panjang hingga mencapai lebih dari 40.000 kilometer atau sekitar dua pertiga dari total jalur kereta cepat global. Pencapaian luar biasa ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari strategi jangka panjang dan ambisi nasional Negeri Tirai Bambu tersebut. Perjalanan China merupakan kisah dan perjuangan yang sudah dicita-citakan sejak puluhan tahun yang lalu. Mari simak kisahnya sebagai berikut.
Awal Mula dan Strategi Pembangunan
Perjalanan kereta cepat di China berawal pada awal tahun 2000-an ketika pemerintah menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat memerlukan sistem transportasi yang lebih efisien dan terintegrasi. Saat itu, China tertinggal jauh dibandingkan Jepang yang telah memiliki Shinkansen sejak 1964 atau Jerman dengan InterCity Express (ICE). Namun, pemerintah China memiliki visi ambisius. Negeri Tirai Bambu tersebut ingin mengejar ketertinggalannya dan bahkan berusaha menjadi pelopor di dunia. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengimpor teknologi asing. Pada tahap awal, China membeli lisensi dan bekerja sama dengan perusahaan dari Jepang, Prancis, dan Jerman untuk membangun jalur-jalur pertama kereta cepat. Salah satu jalur pertama yang dibangun adalah rute Beijing–Tianjin yang dibuka pada 2008 dan menempuh jarak hingga 117 km.
Namun China tidak puas. Berbeda dari banyak negara lain yang hanya bergantung pada teknologi impor, China menerapkan strategi yang lebih maju yaitu melakukan transfer teknologi besar-besaran dan mendirikan pusat riset nasional untuk mengembangkan kemampuan mandiri. China membuat kebijakan yang disebut indigenous innovation dimana ia akan memodifikasi, memperbaiki, hingga akhirnya menciptakan desain dan sistem teknologinya sendiri. Strategi ini dikenal sebagai bentuk technological leapfrogging, yaitu strategi melompati tahapan perkembangan teknologi dengan memanfaatkan inovasi yang sudah ada, lalu menyempurnakannya melalui kapasitas/kemampuan domestik. Hasilnya mulai terlihat pada awal 2010-an ketika China meluncurkan seri kereta cepat CRH (China Railway High-speed) dan kemudian Fuxing Hao, kereta cepat orisinil dari Negeri Tirai Bambu yang kecepatannya mencapai hingga 350 km/jam. Sungguh mengesankan!
Ekspansi Besar-Besaran dan Transformasi Nasional
Layaknya manusia yang tidak pernah puas (asumsi dasar Realisme), China tidak puas dengan pencapaiannya semata. Mereka ingin melangkah lebih jauh dengan melakukan ekspansi besar-besaran. Jadi langkahnya, pemerintah pusat menetapkan pembangunan jaringan kereta cepat sebagai proyek prioritas nasional. Dalam Five-Year Plan yang dimulai sejak 2006, pembangunan infrastruktur ini dibiayai dengan dana negara dan dibantu dengan investasi perusahaan milik negara (Semacam BUMN-nya China). Tujuannya jelas, pemerintah ingin agar proyek ini aman dan lancar terkendali. Dengan begitu, China dapat mempercepat konektivitas antar wilayah dan mendorong pemerataan ekonomi di seluruh penjuru negeri. Dampaknya tuh sangat signifikan. Jalur-jalur strategis seperti Beijing–Shanghai, Wuhan–Guangzhou, dan Xi’an–Chengdu memperpendek waktu tempuh antar kota hingga lebih dari separuhnya. Misalnya jika menggunakan mobil, perjalanan dari Beijing ke Shanghai bisa menempuh waktu hingga 18-20 jam dengan jarak 1.213 km. Namun dengan kereta cepat yang dibangun oleh pemerintah dapat memangkas waktu tempuh masyarakatnya hingga hanya 4 jam saja! Hal ini tentunya akan membuat mobilitas penduduk meningkat pesat. Kota-kota yang dulu terpencil kini tumbuh menjadi pusat ekonomi baru, apalagi yang dilewati oleh jalur kereta cepat. Jadinya kereta cepat ini sangat bermanfaat untuk masyarakat terutama dalam aspek pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, pembangunan kereta cepat juga menumbuhkan rantai industri domestik. Perlu teman-teman ketahui, pembangunan kereta cepat Negeri Tirai Bambu tersebut melibatkan ratusan perusahaan dalam negeri yang terlibat dalam produksi baja, komponen elektronik, dan sistem energi yang mendukung proyek ini. Pemerintah berhasil membangun ekosistem teknologi yang berkelanjutan. Lapangan pekerjaan dapat tercipta dan mengurangi masalah pengangguran di China. China tidak hanya membangun rel dan kereta, tetapi juga membangun peradaban baru dalam transportasi modern. Hasilnya dapat kita lihat sekarang bahwa China sudah menjadi negara pelopor perkembangan kereta cepat di dunia, mengalahkan negara-negara besar dunia seperti Jepang dan Jerman. Kini, kereta cepat China menjadi simbol kemajuan teknologi dan membangun citra baru untuk negeri tersebut.
Diplomasi Infrastruktur dan Proyek Belt Road Initiative
Setelah mencapai kejayaan di dalam negeri, China kemudian membawa visinya ke luar negeri melalui Belt and Road Initiative (BRI). Belt Road Initiative merupakan sebuah strategi besar China yang diluncurkan pada 2013 untuk memperkuat konektivitas lintas kawasan Asia, Afrika, hingga Eropa. Dalam kerangka ini, kereta cepat menjadi instrumen diplomasi ekonomi baru. Melalui kerja sama pembangunan infrastruktur, China berupaya membangun hubungan strategis dengan negara-negara berkembang sekaligus memperluas pengaruhnya di kancah global. Salah satu contoh paling menonjol dari kerja sama ini adalah proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCIC) di Indonesia. Proyek ini menandai pertama kalinya teknologi kereta cepat China diimplementasikan di Asia Tenggara.
Meski sempat menuai kontroversi karena masalah pembiayaan dan hambatan konstruksi, proyek KCIC menjadi simbol penting kolaborasi antara dua negara dengan kepentingan yang saling melengkapi. Indonesia mendapatkan teknologi dan infrastruktur modern, sementara China memperluas jangkauan pengaruh ekonominya di kawasan Asia Pasifik. Selain Indonesia, China juga membangun proyek serupa di Laos, Thailand, Turki, dan beberapa negara Afrika. Melalui proyek-proyek ini, Negara Tirai Bambu tidak hanya mengekspor teknologi tetapi juga mengekspor model pembangunan untuk meningkatkan efisiensi dan keterlibatan dari negara-negara besar di dunia. Inilah bentuk economic statecraft baru yang digunakan China, menjadikan infrastruktur sebagai sarana diplomasi dan pengaruh geopolitik. Kedepannya China melalui Belt Road Initiative nya akan segera membawa pengaruh dan legitimasi Negeri Tirai Bambu di kancah internasional.
Sumber: Data Tempo
Kesimpulan
Kemajuan kereta cepat China merupakan cerminan dari strategi pembangunan nasional yang terencana dan berorientasi jangka panjang. Dalam waktu singkat, China berhasil melampaui kemajuan teknologi menyalip negara-negara besar lainnya seperti Jepang dan Jerman dalam aspek transportasi. Namun lebih dari itu, keberhasilan ini menunjukkan bagaimana infrastruktur dapat berfungsi sebagai alat diplomasi dan soft power dalam politik internasional. Melalui Belt Road Initiative, China melegitimasi dirinya sebagai arsitek konektivitas global abad ke-21. Dari rel-rel baja yang membentang di Negeri Tirai Bambu hingga kerja sama lintas benua, kisah kereta cepat ini menjadi simbol dari kebangkitan China. Tentunya ini menjadi refleksi kritis bagi kita. Apa strategi yang sudah kita lakukan untuk mencapai masa depan yang cerah?
Referensi
Feng, X., Li, J., Liu, Y., & Li, W. (2025). The Impact of High-Speed Rail on High-Quality Economic Development: Evidence from China. Land, 14(7), 1379.
Ionescu, D. (2024, November 29). Is China’s high-speed rail boom unsustainable? Planetizen News.
Lawrence, M., Bullock, R., & Liu, Z. (2019). China’s High-Speed Rail Development. Washington, DC: The World Bank.
Mochammad Noor, E., & Yiming, S. (2023). China’s Economic Diplomacy Towards Indonesia’s Development: A Case Study of Jakarta-Bandung High Speed Railway. Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities.
Ollivier, G., Sondhri, J., & Zhou, N. (2019). How China builds high-speed rail for less. International Railway Journal.
Pratista, R. A., Putra, A. F., & Purnomo, W. (2024). Tantangan Geopolitik Kerja Sama Indonesia-China dalam Proyek Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Desentralisasi : Jurnal Hukum, Kebijakan Publik, dan Pemerintahan, 2(2).
Siqiin, J. (2025, July 8). China to speed up bullet-train connectivity with neighbours. South China Morning Post.
Wu, S. S. (2024). China’s rail diplomacy in Southeast Asia. The Asia-Pacific Journal.








