Home / Uncategorized / Langit Merah Kalimantan: Menelusuri Dampak Karhutla Terhadap Lingkungan, Kesehatan, dan Satwa Liar

Langit Merah Kalimantan: Menelusuri Dampak Karhutla Terhadap Lingkungan, Kesehatan, dan Satwa Liar

Palangka Raya, Langit di atas wilayah Kalimantan Tengah dan sekitarnya kembali diselimuti kabut asap pekat yang membatasi jarak pandang hingga di bawah satu kilometer. Pemandangan sinar matahari yang berubah kemerahan akibat terhalang lapisan asap tebal kini menjadi realitas pahit harian bagi ribuan warga. 

Data resmi SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat lonjakan puluhan ribu titik panas yang tersebar di wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Selatan. Salah satu wilayah paling terdampak, Kabupaten Kotawaringin Timur, bahkan mencatat puluhan ribu titip panas dengan luas lahan terbakar melampaui 2.100 hektare. Musibah ini tidak hanya melumpuhkan mobilitas dan kesehatan warga, tetapi juga mengancam kelangsungan ekosistem dan habitat satwa liar endemik Kalimantan.

Tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memadamkan api karhutla di wilayah Kalimantan Tengah pada malam hari
Tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memadamkan api karhutla di wilayah Kalimantan Tengah pada malam hari (Kemenhut RI)
  1. Fenomena Api Gambut dan Tantangan Pemadaman Darat 

Kebakaran di Pulau Kalimantan memiliki karakteristik khas sekaligus kompleks karena sebagian besar terjadi di kawasan lahan gambut. Berbeda dengan kebakaran hutan tanah mineral biasa, api pada lahan gambut tidak hanya membakar vegetasi di permukaan tanah (surface fire), tetapi juga merambat jauh ke dalam lapisan bawah permukaan (subsurface fire). Hal ini menyebabkan asap tebal terus terpancar meskipun bagian atas tanah tampak sudah padam. 

Upaya pemadaman oleh Satgas Gabungan yang terdiri dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Manggala Agni, TNI, Polri, dan relawan lokal menghadapi tantangan berat di lapangan. Operasi udara seperti water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kerap terkendala oleh minimnya potensi awan hujan serta visibilitas yang buruk akibat kabut asap tebal, sehingga memaksa petugas memprioritaskan pertempuran pemadaman darat secara intensif. 

  1. Ancaman Kesehatan dan Lumpuhnya Aktivitas Warga 

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak, kabut asap bukan sekadar gangguan jarak pandang, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan paru-paru. Paparan Partikulat (PM2.5) hasil pembakaran organik meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara signifikan, terutama pada anak-anak dan lansia. 

Aktivitas belajar-mengajar di sekolah sempat dialihkan menjadi pembelajaran daring, sementara para pekerja lapangan terpaksa mengenakan masker tebal di tengah kepungan bau sangit. Gangguan penerbangan dan penutupan jalur lalu lintas udara akibat visibilitas di bawah ambang batas aman juga turut melumpuhkan denyut roda perekonomian daerah.

  1. Krisis Habitat dan Ancamannya Bagi Satwa Endemik 

Dampak Karhutla yang tidak kalah memprihatinkan adalah terancamnya keanekaragaman hayati. Hutan Kalimantan merupakan rumah bagi satwa terlindungi seperti Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), bekantan, dan berbagai jenis burung langka. Ketika api melalap ribuan hektare hutan seperti yang melanda kawasan sekitar Taman Nasional Tanjung Puting satwa liar terdesak keluar dari habitat aslinya. Banyak di antara mereka yang mengalami luka bakar, dehidrasi, hingga terisolasi di kantong-kantong hutan yang tersisa tanpa pasokan makanan yang cukup. 

(baraNews Aceh)

Bencana Karhutla di Kalimantan menekankan pentingnya komitmen jangka panjang dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mengelola lahan secara bijak. Penanganan bencana asap tidak bisa hanya mengandalkan aksi pemadaman darurat saat api sudah membesar. Pengawasan ketat terhadap pembukaan lahan, pemulihan (rewetting) kawasan gambut terdegradasi, serta kesadaran kolektif untuk tidak membakar lahan adalah kunci utama agar bencana serupa tidak terus berulang setiap tahun.

Sudah saatnya kita memberikan perhatian nyata bagi tanah Kalimantan demi nafas yang bersih bagi warga, ruang hidup bagi satwa endemik, serta keberlanjutan paru-paru dunia.

Penulis: Princessa Variora Rikova

SUMBER REFERENSI

Rekapitulasi luas kebakaran hutan/lahan dan sebaran titik panas/hotspot Kalimantan (https://sipongi.menlhk.go.id/)

Laporan operasi pemadaman darat/udara dan status siaga darurat daerah (https://gis.bnpb.go.id/ / https://bnpb.go.id/ )

Tingkat pencemaran udara PM2.5 dan sebaran asap wilayah Indonesia (https://www.bmkg.go.id/kualitas-udara/informasi-pm25.bmkg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *